Sunday, April 01, 2007

UNCONSCIOUSNESS

Seorang teman pernah berkata, "Ketidaksadaran pria adalah wanita, begitu pun sebaliknya." Statement itu berdasarkan teori Carl Gustav Jung. Terdengar simpel, tapi sampe sekarang aku nggak bener-bener ngerti maksud teoti tsb. Yang aku tau, kadang manusia memang menutup mata pada sisi ketidaksadarannya. Berdasarkan kesadaranku, aku adalah orang yang pintar dan kreatif. Aku selalu tertarik pada hal-hal baru, gemar membaca dan suka menulis. Paling tidak itulah yang aku tau tentang diriku.
Tapi bagaimana bila dilihat dari sisi ketidaksadaranku? Aku memang selalu tertarik pada hal-hala baru, tapi aku tidak pernah benar-benar mencari tau dan mendalaminya. Aku memang gemar membaca, tapi aku hanya membaca hal-hal yang menarik bagiku. Aku tidak suka membaca hal-hal berat yang menurutku hanya akn menguras otak, padahal justru dapat memperkaya otak. Aku dulunya memang suka menulis, tapi bukti kesukaanku itu masih semu, belum dapat terealisasi. Belum satu karya pun yang aku hasilkan. Proyek novelku selalu tersendat di tengah jalan. Buku kumpulan puisi karyaku hilang dan sejak saat itu, aku kehilangan keinginan untuk menulis puisi. Semakin hari, semakin banyak penulis muda bermunculan dengan ciri khas dan orisinalitas mereka masing-masing. Kapan namaku akan disebut-sebut seperti mereka? Kapan namaku akan disejajarkan dengan mereka?
Setiap tahun di hari ulangtahunku, aku selalu menargetkan tahun ini bukuku harus terbit. Dan itu sudah dimulai sejak ulang tahunku yang ke 18. Tapi setelah tiga tahun berlalu, keinginan itu belum bisa kurealisasikan. Aku ragu, ragu akan kemampuanku sendiri. Apa aku bisa menghasilkan tulisan yang bermutu? Entahlah. Yang pasti, tahun ini aku tidak terlalu menargetkannya. Entah kapan aku bisa meluncurkan novel perdanaku. Mungkin aku akan seperti kebanyakan penulis wanita, justru berkarya setelah bekerja atau berumahtangga. Seperti Icha Rahmanti yang menelurkan 'Cintapucino' setelah ia bekerja, atau Ninit Yunita yang meluncurkan 'Kok Putusin Gue?' pada saat ia baru saja menjadi seorang istri, atau malah seperyi Trie Utami yang menghasilkan 'Karmapala' justru saat ia resmi menyandang status janda. Entah... Yang pasti, semakin lama waktu yang kubutuhkan untuk menulis karyaku, harus semakin bagus dan berisi aku merangkainya. Semoga ketidaksadaranku berpihak pada kesadaranku.